Standar

TASAWUF DAN PENDIDIKAN SPIRITUAL

Pendahuluan

  1. a.    Sekitar makna tasawuf

Asal kata tasawuf banyak yang mendefinisikan baik secara bahasa maupun secara istilah. Dari segi Linguistik (kebahasaan) dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap jiwa yang demikian adalah akhlak yang mulia.

Selama ini ada beberapa sudut pandang yang digunakan para ahli untuk mendefinisikan tasawuf, manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, dan manusia sebagai makhluk yang1 ber-Tuhan. Dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas, maka tasawuf didefinisikan sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia, dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah SWT.

Tasawuf adalah nama lain dari “Mistisme dalam Islam” di kalangan orintalis Bara tdikenal dengan sebutan “Sufisme” kata “Sufisme” istilah khusus mistisme Islam yang tidak ada pada mistisme agama-agama lain. Adapun tujuannya adalah memperoleh suatu hubungan khusus langsung dari Tuhan.Sedangkan ada juga tujuan lain seperti bisa berhubungan langsung dengan Tuhan.Maksudnya bahwa ibadah yang diselenggarakan dengan cara formal belum dianggap memuaskan karena belum memenuhi kebutuhan spiritual kaum sufi.

Ibnu al-Qayyim dalam “Madarijus Salikin” menyebutkan para pembahas ilmu ini telah sependapat bahwa tasawuf adalah moral. diantaranya Nasution, menyebutkan lima istilah kata  tasawuf berasal dari kata:

  1. al-suffah (ahl al-suffah),yaitu orang-orang yang pindah dengan Nabi dari Mekkah ke Madinah), mereka meninggalkan keluarga, harta, dan perniagaannya rela mencurahkan jiwa raganya demi kecintaan pada Allah dan rasul, harta benda dan semua yang mereka miliki hanya untuk Allah.
  2.  saf , barisan kaum muslimin harus teratur dan rapi dalam segala hal, seperti dalam shaf shalat(shaf:4)
  3. sufi (suci), mereka membersihkan jiwa dan raga demi mencapai keridlaan Allah semata.
  4. sophos (bahasa Yunani: hikmat),melalui kehidupan sufi orang  dapat mengambil hikmah dalam segala hal.
  5. suf (kain Keseluruhan kata ini bisa-bisa saja dihubungkan dengan wuf, woll, orang-orang yang tinggal disekeliling masjid pada zaman nabi biasanya menggunakan kain woll

Sedangkan menurut istilah:

  1. Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdy mengatakan bahwa :”Tasawuf adalah ilmu yang dapat  diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa dengan cara membersihkannya dari (sifat-sifat) yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju (keridhaan) Allah dan meninggalkan (larangan-Nya) menuju (perintah-Nya).
  2.  Imam Al-Ghazali mengemukakan pendapat Abu Bakar al-Katany yang mengatakan bahwa “Tasawuf adalah budi pekerti, jadi barangsiapa yang memberikan bekal budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal atas dirimu dalam tasawuf. Maka hamba yang jiwanya menerima (perintah) untuk beramal karena sesungguhnya mereka melakukan suluk dengan nur (petunjuk) Islam. DanAhli Zuhud yang jiwanya menerima (perintah untuk melakukan beberapa akhlaq(terpuji) karena mereka telah melakukan suluk dengan nur (petunjuk) imannya”.

Ada beberapa unsur yang mempengaruhi tasawuf, diantaranya:

1. Unsur Islam

Secara umum Islam mengatur kehidupan lahiriah maupun batiniah. Dari unsur batiniahlah lahir tasawuf yang mendapat perhatian besar dari al-Qur’an dan al-Sunnah serta kehidupan Nabi dan para sahabatnya. Al-Qur’an menyebutkan  tentang kemungkinan manusia dengan Tuhan dapat saling mencintai (mahabbah) (QS. al-Maidah, 5: 54);

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä `tB £‰s?ötƒ öNä3YÏB `tã ¾ÏmÏZƒÏŠ t$öq|¡sù ’ÎAù’tƒ ª!$# 5Qöqs)Î/ öNåk™:Ïtä† ÿ¼çmtRq™6Ïtä†ur A’©!όr& ’n?tã tûüÏZÏB÷sßJø9$# >o¨“Ïãr& ’n?tã tûï͍Ïÿ»s3ø9$# šcr߉Îg»pgä† ’Îû È@‹Î6y™ «!$# Ÿwur tbqèù$sƒs† sptBöqs9 5OͬIw 4 y7Ï9ºsŒ ã@ôÒsù «!$# ÏmŠÏ?÷sム`tB âä!$t±o„ 4 ª!$#ur ììřºur íOŠÎ=tæ ÇÎÍÈ

54. Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.

perintah agar manusia selalu bertobat, membersihkan diri, memohon ampunan kepada Allah (Lihat QS. Tahrim, 8),

$pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqç/qè? ’n<Î) «!$# Zpt/öqs? %·nqÝÁ¯R 4Ó|¤tã öNä3š/u‘ br& tÏeÿs3ムöNä3Ytã öNä3Ï?$t«Íh‹y™ öNà6n=Åzô‰ãƒur ;M»¨Zy_ “̍øgrB `ÏB $ygÏFøtrB ㍻yg÷RF{$# tPöqtƒ Ÿw “Ì“øƒä† ª!$# ¢ÓÉ<¨Z9$# z`ƒÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä ¼çmyètB ( öNèdâ‘qçR 4Ótëó¡o„ šú÷üt/ öNÍk‰É‰÷ƒr& öNÍkÈ]»yJ÷ƒr’Î/ur tbqä9qà)tƒ !$uZ­/u‘ öNÏJø?r& $uZs9 $tRu‘qçR öÏÿøî$#ur !$uZs9 ( y7¨RÎ) 4’n?tã Èe@à2 &äóÓx« ֍ƒÏ‰s% ÇÑÈ

8. Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

petunjuk bahwa manusia akan bertemu dengan Tuhan di manapun mereka berada.  (QS. al-Baqarah, 2:110)

ö@yd tbrãÝàYtƒ HwÎ) br& ãNßguŠÏ?ù’tƒ ª!$# ’Îû 9@n=àß z`ÏiB ÏQ$yJtóø9$# èpx6Í´¯»n=yJø9$#ur zÓÅÓè%ur ãøBF{$# 4 ’n<Î)ur «!$# ßìy_öè? â‘qãBW{$# ÇËÊÉÈ

210. tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan Malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan[131], dan diputuskanlah perkaranya. dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.

[131] Naungan awan bersama Malaikat biasanya mendatangkan hujan yang artinya rahmat, tetapi rahmat yang diharap-harapkan itu tidaklah datang melainkan azab Allah-lah yang datang.

Tuhan dapat memberikan cahaya kepada orang yang dikehendakinya (QS. al-Nur, 35).

* ª!$# â‘qçR ÅVºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur 4 ã@sWtB ¾Ín͑qçR ;o4qs3ô±ÏJx. $pkŽÏù îy$t6óÁÏB ( ßy$t6óÁÏJø9$# ’Îû >py_%y`㗠( èpy_%y`–“9$# $pk¨Xr(x. Ò=x.öqx. A“Íh‘ߊ ߉s%qム`ÏB ;otyfx© 7pŸ2t»t6•B 7ptRqçG÷ƒy— žw 7p§‹Ï%÷ŽŸ° Ÿwur 7p¨ŠÎ/óxî ߊ%s3tƒ $pkçJ÷ƒy— âäûÓÅÓムöqs9ur óOs9 çmó¡|¡ôJs? ֑$tR 4 î‘qœR 4’n?tã 9‘qçR 3 “ωöku‰ ª!$# ¾Ín͑qãZÏ9 `tB âä!$t±o„ 4 ÛUΎôØo„ur ª!$# Ÿ@»sWøBF{$# Ĩ$¨Y=Ï9 3 ª!$#ur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ÒOŠÎ=tæ ÇÌÎÈ

35. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[1039], yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya)[1040], yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

[1039] Yang dimaksud lubang yang tidak tembus (misykat) ialah suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai kesebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain.

[1040] Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.

Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak diperbudak oleh dunia dan harta benda (QS. al-Hadid, al-Fathir, 5),

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# ¨bÎ) y‰ôãur «!$# A,ym ( Ÿxsù ãNä3¯R§äós? äo4qu‹ysø9$# $u‹÷R‘‰9$# ( Ÿwur Nä3¯R§äótƒ «!$$Î/ â‘rátóø9$#

5. Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.

dan senantiasa bersikap sabar (QS. Ali Imran, 3).

tA¨“tR šø‹n=tã |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ $]%Ïd‰|ÁãB $yJÏj9 tû÷üt/ Ïm÷ƒy‰tƒ tAt“Rr&ur sp1u‘öq­G9$# Ÿ@‹ÅgUM}$#ur ÇÌÈ

3. Dia menurunkan Al kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,

 

2. Unsur Luar Islam

Dalam berbagai literatur yang ditulis para orientalis Barat sering dijumpai uraian yang menjelaskan bahwa tasawuf Islam dipengaruhi oleh unsur agama masehi, unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia. Mereka menyimpulkan bahwa adanya unsur luar Islam masuk ke dalam tasawuf itu disebabkan karena secara historis agama-agama tersebut sudah ada sebelum Islam.Akan tetapi kita dapat mengatakan bahwa boleh saja orang Arab terpengaruh oleh agama-agama tersebut, namun tidak secara otomatis mempengaruhi kehidupan tasawuf, karena para penyusun ilmu tasawuf atau orang yang kelak menjadi sufi itu bukan berasal dari mereka itu.

Dengan demikian adanya unsur luar Islam yang mempengaruhtasawuf Islam itu merupakan masalah akademik bukan masalah akidah Islamiah. Karenanya boleh diterima dengan sikap yang sangat kritis dan obyektif. Kita mengakui bahwa Islam sebagai agama universal yang dapat bersentuhan dengan berbagai lingkungan sosial. Dengan sangat selektif Islam bisa beresonansi dengan berbagai unsur ajaran sufistik yang terdapat dalam berbagai ajaran tersebut. Dalam hubungan ini maka Islam termasuk ajaran tasawufnya dapat bersentuhan atau memiliki kemiripan dengan ajaran tasawuf yang berasal dari luar Islam itu.

a. Unsur Masehi

Orang Arab sangat menyukai cara kependetaan, khususnya dalam hal latihan jiwa dan ibadah, tidak mengherankan jika Von Kromyer berpendapat bahwa tasawuf adalah buah dari unsur agama Nasrani  zaman Jahiliyah. Hal ini diperkuat pula oleh Gold Ziher yang mengatakan bahwa sikap fakir dalam Islam adalah merupakan cabang dari agama Nasrani. Selanjutnya Noldicker mengatakan bahwa pakaian wol kasar yang digunakan para sufi sebagai lambang kesederhanaan merupakan pakaian yang biasa dipakai oleh para pendeta. Sedangkan Nicholson mengatakan bahwa istilah-istilah tasawuf itu berasal dari agama Nasrani, dan bahkan ada yang berpendapat bahwa aliran tasawuf berasal dari agama Nasrani.

b.Unsur Yunani

Kebudayaan Yunani adalah filsafatnya yang telah mendunia  perkembangannya mulai pada akhir Dinasti Bani Umayyah dan puncaknya pada masa  Abbasiyah, metode berpikir filsafatnya telah mempengaruhi pola berpikir sebagian orang Islam yang ingin berhubungan dengan Tuhan. Perkembangan tasawuf ini baru dalam taraf amaliah (akhlak) dalam pengaruh filsafat Yunani ini maka uraian-uraian tentang tasawuf itu telah berubah menjadi tasawuf filsafat. Hal ini dapat dilihat dari pikiran al-Farabi’, al-Kindi, Ibn Sina terutama dalam uraian mereka tentang filsafat jiwa. Demikian juga pada uraian tasawuf dari Abu Yazid, al-Hallaj, Ibn Arabi, Suhrawardi dan lain-lain sebagainya.

c. Unsur Hindu/Budha

Antara tasawuf dan sistem kepercayaan agama Hindu dapat dilihat adanya hubungan seperti sikap fakir, darwisy. Al-Birawi mencatat bahwa ada persamaan antara cara ibadah dan mujahadah tasawuf dengan Hindu. Paham reinkamasi (perpindahan roh dari satu badan ke badan yang lain), cara kelepasan dari dunia versi Hindu/Budha dengan persatuan diri denganjalanmengingatAllah.

Salah satu maqomat Sufiah al-Fana tampaknya ada persamaan dengan ajaran tentang Nirwana dalam agama Hindu. Goffiq Ziher mengatakan bahwa ada hubungan persamaan antara tokoh Sidharta Gautama dengan Ibrahim bin Adham tokoh sufi.

d. Unsur Persia

Sebenarnya antara Arab dan Persia itu sudah  sejak lama hubungan dalam bidang politik, pemikiran, kemasyarakatan dan sastra. Akan tetapi belum ditemukan dalil yang kuat yang menyatakan bahwa kehidupan rohani Persia telah masuk ke tanah Arab. Kehidupan kerohanian Arab masuk ke Persia itu terjadi melalui ahli-ahli tasawuf di dunia ini. Barangkali ada persamaan antara istilah zuhd di Arab dengan zuhd menurut agama Manu Mazdaq dan hakikat Muhammad menyerupai paham (Tuhan kebaikan) dalam agama Zarathustra.

Tahapan-tahapan pendidikan Spiritual(Maqamat)

Secara harfiah maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Dalam bahasa Inggris maqamat dikenal dengan istilah stages yang berarti tangga.

Tentang berapa jumlah tangga atau maqamat yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk sampai menuju Tuhan, di kalangan para sufi tidak sama pendapatnya. Muhammad al-Kalabazy dalam kitabnya al-Taarruf li Mazhab ahl al-Tasawwuf, sebagai dikutip Harun Nasution misalnya mengatakan bahwa maqamat itu jumlahnya ada sepuluh, yaitu al-taubah, al-zuhud, (al-shabr, al-faqr, al-tawadlu, al’taqwa, al-tawakkal, al’ridla), al-mahabbah dan al-ma’rifah

Al-Taubah

Al-Taubah berasal dari bahasa Arab taba, yatubu, taubatan yang artinya kembali. Sedangkan taubat yang dimaksud oleh kalangan sufi adalah memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan disertai janji yang sungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut disertai dengan melakukan amal kebajikan.

Harun Nasution, mengatakan taubat dimaksud sufi ialah taubat yang sebenarnya, taubat yang tidak akan membawa kepada dosa lagi. Untuk mencapai taubat yang sesungguhnya dan dirasakan diterima oleh Allah terkadang tidak dapat dicapai satu kali saja. Ada seorang sufi sampai tujuh puluh kali taubat, baru ia mencapai tingkat taubat yang sesungguhnya. Taubat yang sebenarnya dalam paham sufisme ialah lupa pada segala hal kecuali Tuhan yang taubat adalah orang yang cinta pada Allah, dan orang yang demikian senantiasa mengadakan kontemplasi tentang Allah.

 Al-Zuhud

Secara harfiah al-zuhud berarti tidak ingin kepada sesuatu yang bersifat

keduniawian. Sedangkan menurut Harun Nasution zuhud artinya keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Selanjutnya al-Qusyairi mengatakan bahwa di antara para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan zuhud. Sebagian ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah orang yang zuhud di dalam masalah yang haram, karena yang halal adalah sesuatu yang mubah dalam pandangan Allah, yaitu orang yang diberikan nikmat berupa harta yang halal, kemudian ia bersyukur dan meninggalkan dunia itu dengan kesadarannya sendiri. Sebagian ada pula yang mengatakan bahwa zuhud dalam hal yang haram sebagai suatu kewajiban.

Zuhud termasuk salah satu ajaran agama yang sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh kehidupan dunia. Orang yang zuhud lebih mengutamakan atau mengejar kebahagiaan hidup di akhirat yang kekal dan abadi, daripada mengejar kehidupan dunia yang fana dan semu. Hal ini dipahami dari  ayat yangberbunyi:

$yJoY÷ƒr& (#qçRqä3s? ãNœ3.͑ô‰ãƒ ÝVöqyJø9$# öqs9ur ÷LäêZä. ’Îû 8lrãç/ ;oy‰§‹t±•B 3 bÎ)ur öNßgö6ÅÁè? ×puZ|¡ym (#qä9qà)tƒ ¾Ínɋ»yd ô`ÏB ωZÏã «!$# ( bÎ)ur öNßgö6ÅÁè? ×py¥ÍhŠy™ (#qä9qà)tƒ ¾Ínɋ»yd ô`ÏB x8ωZÏã 4 ö@è% @@ä. ô`ÏiB ωZÏã «!$# ( ÉA$yJsù ÏäIwàs¯»yd ÏQöqs)ø9$# Ÿw tbrߊ%s3tƒ tbqßgs)øÿtƒ $ZVƒÏ‰tn ÇÐÑÈ

Katakanlah kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun (QS. 4: 78).

Al-Wara

Secara harfiah al-wara’ artinya saleh, menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Kata ini selanjutnya mengandung arti menjauhi hal-hal yang tidak baik. Dan dalam pengertian sufi al-wara adalah meninggalkan segala yang di dalamnya terdapat keragu-raguan antara halal dan haram (syubhat). Sikap menjauhi diri dari yang syubhat ini sejalan dengan hadis Nabi yang berbunyi: Barangsiapa yang dirinya terbebas dari syubhat, maka sesungguhnya ia telah terbebas dari yang haram. (HR. Bukhari).

Hadits tersebut menunjukkan bahwa syubhat lebih dekat pada yang haram. Kaum sufi menyadari benar bahwa setiap makanan, minuman, pakaian dan sebagainya yang haram dapat memberi pengaruh bagi orang yang memakan, meminum atau memakannya. Orang yang demikian akan keras hatinya, sulit mendapatkan hidayah dan ilham dari Tuhan. Hal ini dipahami dari hadits Nabi yang menyatakan bahwa setiap makanan yang haram yang dimakan oleh manusia akan menyebabkan noda hitam pada hati yang lama-kelamaan hati menjadi keras. ini sangat ditakuti oleh para sufi yang senantiasa mengharapka Nur Ilahi yang dipancarkan lewat hatinya yang bersih.

 Mahabbah

Kata mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, atau kecintaan atau cinta yang mendalam. Dalam Mu’jam al-Fal-safi, Jamil Shaliba mengatakan mahabbah adalah lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci. Al-Mahabbah dapat pula berarti al-wadud, yakni yang sangat kasih atau penyayang. Selain itu al-mahabbah dapat pula berarti kecenderungan pada sesuatu yang sedang berjalan, dengan tujuan untuk memperoleh kebutuhan yang bersifat material maupun spiritual, seperti cintanya seseorang yang kasmaran pada sesuatu yang dicintainya, orang tua pada anaknya, seseorang pada sahabatnya, suatu bangsa terhadap tanah airnya, atau seorang pekerja kepada pekerjaannya.

Hal-hal yang  mengandung makna cinta kepada Tuhan. Lebih luas lagi bahwa “Mahabbah” memuat pengertian yaitu :

  1. Memeluk dan mematuhi perintah Tuhan dan membenci sikap yang melawan pada Tuhan
    1. Berserah diri kepada Tuhan
    2. Mengosongkan perasaan di hati dari segala-galannya

kecuali dari zat yang dikasihi

 

Tentang “Mahabbah” dapat dapat dijumpai di dalam al-Qur’an antara lain :

Surat Ali Imran ayat 31 : Artinya :”Katakanlah : jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosanmu” Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang” (Q.S Ali Imran, 31).

Hadits “Yang artinya hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan hingga aku cinta padanya. Oran gyang kucintai menjadi telinga, mata dan tangan-Ku”.

Aliran tasawuf mahabbah kedudukannya sejajar dengan aliran-aliran tasawuf lainnya seperti ma’rifat (pengetahuan). Al-Fana dan al-Baqa (kehancuran dan ketetapan), dan al-ijtihad (persatuan). Ijtihad dapat berbentuk Al-Qulul (pengambilan tempat) ataupun Al-Wujud (kesatuan wujud). Penjelasan tentang aliran-aliran tersebut akan diuraiakan pada bab-bab berikutnya.

Mahabbah pada tingkat selanjutnya dapat pula berarti suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat rohaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran Yang Mutlak, yaitu cinta kepada Tuhan.
Kata mahabbah tersebut selanjutnya digunakan untuk menunjukkan pada suatu paham atau aliran dalam tasawuf. Dalam hubungan ini mahabbah obyeknya lebih ditujukan pada Tuhan. Dari sekian banyak arti mahabbah yang dikemukakami di atas, tampaknya ada juga yang cocok dengan arti mahabbah yang dikehendaki dalam tasawuf, yaitu mahabbah yang artinya kecintaan yang mendalam secara ruhianpadaTuhan.

Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang zahid perempuari yang amat besar dari Bashrah, di Irak. la hidup antara tahun 713-801 H. Sumber lain menyebutkan bahwa ia meninggal, dunia dalam tahun 185 H./796 M. Menurut riwayatnya ia adalah seorang hamba yang kemudian dibebaskan. Dalam hidup selanjutnya ia banyak beribadat, bertaubat dan menjauhi hidup duniawi. la hidup dalam kesederhanaan dan menolak segala bantuan material yang diberikan orang kepadanya. Dalam berbagai doa yang dipanjatkannya ia tak mau meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan. la betul-betul hidup dalam keadaan zuhud dan hanya ingin berada dekat dengan Tuhan.

 Ma’rifah

Dari segi bahasa ma’rifah berasal dari kata arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifah yang artinya pengetahuan atau pengalaman, dapat pula berarti pengetahuan tentang rahasia hakikat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu yang biasa didapati oleh orang-orang pada umumnya. Ma’rifah adalah pengetahuan yang obyeknya bukan pada hal-hal yang bersifat zahir, tetapi lebih mendalam terhadap batinnya dengan mengetahui rahasianya. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa akal manusia sanggup mengetahui hakikat ketuhanan, dan hakikat itu satu, dan segala yangmaujudberasaldariyangsatu.

Istilah ma’rifah berasal dari kata “Al-Ma’rifah”,yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Kemudian istilah ini di rumuskan defenisinya oleh beberapa UlamaTasawuf, antara lain yaitu:

1.Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama Tasawuf  yang mengatakan “Ma’rifah adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaan”.

2.Asy-Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Kadiri mengemukakan abud Thayyib al-Samiry sebagai berikut:” Ma‟rifat adalah hadirnya kebenaran Allah (Pada  sufi)…. dalam yang meningkat ma’rifanya, maka meningkat pula ketenangan (hatinya). Ada beberapa tanda yang dimiliki oleh Sufi bila sudah sampai kepada tingkatan ma’rifat, antara lain :

a.   Selalu memancar cahaya ma’rifah padanya dalam segala sikap dan

perilakunnya, karena itu, sikap wara selalu ada pada dirinya

b.  Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta yang bersifatnyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran tasawuf, belum tentu benar

c.  Tidak menginginkan nikmat Allah yang buat dirinya, karena hal itu bisamembawannya kepada perbuatan yang haram.

Faham Ma’rifah

Ada segolongan orang sufi mempunyai ulasan bagaimana hakikat ma’rifah. Mereka  mengemukakan paham-pahamnya antara lain :

  1. Kalau mata yang ada did alam hati sanubari manusia terbuka, maka mata kepalatertutup, dan waktu inilah yang dilihat hanya Allah
  2. Ma;rifah adalah cermin. Apabila seorang yang arif melihat ke arah cermin maka
  3. apa yang dilihatnya hanya Allah
  4. Orang kafir baik di waktu tidur dan bangun yang dilihat hanyalah Allah SWT
  5. Seandainnya ma’rifah itu materi, maka semua orang yang melihat akan matikarena tidak tahan merlihat kecantikan serta keindahannya. Dan semua cahaya akanmenjadi gelah di samping cahaya keindahan yang gilang-gemilang

 

Jalan Ma’rifah

Kaum Sufi untuk medapatkan suatu ma’rifah melaui jalan yang ditempuh dengan menperguankan suatu alat diantaranya :

Menurut Al – Qusyairi ada tiga yaitu :

a .Qalb    : Untuk mengetahui sifat Tuhan

b. Ruh     : Untuk dapat mencintai Tuhan

c.Sir        : Untuk melihat Tuh, sir ada dalam ruh

Sifat dari ma’rifah Tuhan bagi seorang sufi adalah kontinyu (terus menerus). Namun untuk memperoleh ma’rifah yang penuh tentang Tuhan mustahil, sebab manusiabesifat terbatas sedangkan Tuhan bersifat tidak terbatas.

 

Tokoh Ma’rifah

Al Gazali mengakhiri masa pertualangannya, karena telah mendapat “pengangan” yang sekuat-kuatnya untuk kembali berjuang dan bekerja di tengah masyarakat, pengangan itu adalah “Paham Sufi” yang diperolehnya berkat ilhamTuhan di tanahsuci Mekkah dan Madinah. Menurut Al – Gazali, Ma’rifah adalah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan – peraturan Tuhan tentang segala yang ada. Ma’rifah dan Mahabbah menurut Al – Gazali adalah tingkatan tinggi bagi seorang Sufi. Dan pengetahuan ma’rifah lebih baik kualitasnya dari pengetahuan akal.

Selanjutnya ma’rifah digunakan untuk menunjukan, pada salah satu tingkatan dalam tasawuf. Dalam arti sufistik ini, ma’rifah diartikan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan: melalui hati sanubari. Pengetahuan itu demikian lengkap dan jelas sehingga jiwanya merasa satu dengan yang diketahuinya itu, yaitu Tuhan. Selanjutnya Harun Nasution mengatakan bahwa ma’rifah menggambarkan hubungan rapat daiam bentuk gnosis, pengetahuan dengan hati sanubari.

Seterusnya al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang mempunyai ma’rifah tentang Tuhan, yaitu arif, tidak akan mengatakan ya Allah atau ya rabb karena memanggil Tuhan dengan kata-kata serupa ini menyatakan bahwa Tuhan ada di bekalang tabir. Orang yang duduk berhadapan dengan temannya tidak akan memanggiltemannyaitu.

Tetapi bagi al-Ghazali ma’rifah urutannya terlebih dahulu daripada mahabbah, karena mahabbah timbul dari ma’rifah. Namun mahabbah yang dimaksud al-Ghazali berlainan dengan mahabbah yang diucapkan oleh Rabi’ah al-Adawiyah, yaitu mahabbah dalam bentuk cinta seseorang kepada yang berbuat baik kepadanya, cinta yang timbul dari kasih dan rahmat Tuhan kepada manusia yang memberi manusia hidup, rezeki, kesenangan dan lain-lain. Al-Ghazali lebih lanjut mengatakan bahwa ma’rifah dan mahabbah itulah setinggi-tinggi tingkat yang dapat dicapai seorang sufi. Dan pengetahuan yang diperoleh dari ma’rifah lebih tinggi mutunya dari pengetahuan yang diperoleh dengan akal.

Sebagian golongan kaum sufi mempunyai ulasan bagaimana hakikat ma‟rifah. Mereka  mengemukakan paham-pahamnya antara lain :

  1. Kalau mata yang ada didalam hati sanubari manusia terbuka, maka mata

kepala tertutup, dan waktu inilah yang dilihat hanya Allah.

  1. Ma‟rifah adalah cermin. Apabila seorang yang arif melihat ke arah cermin maka apa yang dilihatnya hanya Allah.
  2. Orang kafir baik di waktu tidur dan bangun yang dilihat hanyalah Allah SWT.
  3. Seandainnya ma‟rifah itu materi, maka semua orang yang melihat akan matikarena tidak tahan merlihat kecantikan serta keindahannya. Dan semua cahaya akanmenjadi gelah di samping cahaya keindahan yang gilang-gemilang.

 

Daftar Pustaka

Bambang Herawan, Pasang Surut Aliran Tasawuf, Mizan, Bandung, Th. 1985

Azra Azyumardi, Jaringan Ulama, Mizan,Bandung, Th.1994

Barsani KH. Noer Iskandar al-, Tasawuf Tarikat dan para Sufi, Srigunting, Jakarta, Th.2001

Mansur, Laily Tasawuf Islam mengenal Aliran dan Ajaran, Lambung Mangkurat University Press, Banjarmasin, Th. 1992

……………………Ajaran dan Teladan Para Sufi, Srigunting, Jakarta, Th. 1996 cet.II

Rahman Fazlur, Islam, Pustaka, Th. 2000

Taftazani Abu al-Wafa al-Ghanimi al-, Madkhal Ila al- Tashawwuf al-Islam, terj. Ahmad Rofi Utsmani, Sufi dari zaman ke zaman, Pustaka, Bandung, Th. 1997

Tim penulis IAIN Syarif Hidayatullah,Ensiklopedi Islam Indonesia,Djambatan ,Jakarta Th.1992

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s