Standar

 

SUNNATULLAH DALAM PERUBAHAN KEADAAN MANUSIA MENURUT AL-QUR’AN

Pendahuluan

Al-qur’an sebagai way of life  telah mengatur semua kehidupan manusia di alam sini secara pasti termasuk sunnatullah. Manusia sebagai khalifah fil’ardl yang melaksanakan perintah Alah dengan sebaik-baiknya dia akan mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan baik dunia maupun akhirat , inilah yang disebut sunnatullah.Sunnatullah berlaku sesuai perbuatan manusia sendiri baik atau buruknya.

Kondisi manusia pada dasarnya bisa dirubah apabila ada kemauan dari manusia itu sendiri untuk merubahnya. Iman, akhlak dan tingkah laku yang baik akan dapat merubah kondisi negative yang dialami seseorang menjadi kondisi positif yang penuh kenikmatan.Sebab Allah telah memberlakukan hukum sebab akibat di dunia ini. Siapapun yang melaksanakannya sebab dengan baik maka ia akan mendapatkan akibat  yang baik juga, seseorang  menanam padi hasilnya pasti padi bukan jagung.Menanam kebaikan pasti akan berbuah kebaikan juga karena sudah janji Allah.

Hal ini mestinya disadari oleh manusia, bahwa untuk mencapai kemajuan tidak mungkin dapat dicapai dengan berkhayal dan berpangku tangan semata sambil menunggu pertolongan Allah, akan tetapi kemajuan itu harus diusahakan dan dijemput dengan usaha dan kerja keras yang maksimal. Perubahan keadaan manusia itu merupakan sunnatullah, yang letak keberhasilannya digantungkan dari usaha manusia itu sendiri untuk berubah.

Di sini dapat dicatat bahwa hidup di dunia tidak cukup hanya dengan patuh kepada syariatullah tetapi juga harus patuh kepada sunnatullah. Islam bukan hanya syariatullah tetapi juga sunnatullah.Rasulullah saw tidak hanya mengajarkan shalat dan puasa tetapi juga mengajarkan kejujuran dan keadilan, kerapian, kerja keras, kedisiplinan, kesungguhan menegakkan hukum (sisi yang kedua ini termasuk sunnatullah). Islam tidak hanya melarang tindakan mengabaikan shalat, puasa dan ritual lainnya, tetapi juga melarang sogok menyogok, korupsi, menipu, kedzaliman dan sebagainya. Dalam kenyataan sehari-hari di tengah umat Islam masih banyak yang tidak mengambil Islam secara lengkap, hanya sisi syariahnya (baca: ritualnya) saja, sementara sunnatullah di lapangan sosial diabaikan.

 

Kebiasaan tidak jujur seperti korupsi, menipu(kadzib), sogok menyogok(rosyi walmurtasyi),  dianggap pemandangan yang biasa dikalangan umat Islam yang mengaku berpegang teguh pada Al-Qur’an. Sementara negara-negara maju, sangat takut dari kebiasaan seperti ini padahal mereka bukan orang Islam. Setiap tindakan melanggar hokum seperti menipu, sogok-menyogok, korupsi dan lain sebagainya  sekecil apapun mereka lakukan, akan ditindak secara hukum dengan tegas. Karenanya mereka maju secara keduniaan.

 

Sementara di sisi lain  kita menyaksikan orang-orang Islam tidak berdaya mati dipojok masjid, tidak dapat menghidupi sendiri dan tidak bisa memberikan kontribusi bagi kemanusiaan secara luas. Padahal dalam sejarah Islam, telah terbukti bahwa umat ini pernah memimpin seperempat dunia, dengan kegemilangan sejarah tak terhingga bagi kemanusiaan. Puncaknya di zaman Umar Bin Khatthab(era khulafauraasyidin) lalu di zaman Umar bin Abdul Aziz(umayyah). Pada zaman itu tidak ada seorangpun yang didzalimi. Umar bin Khaththab pernah mengumumkan bahwa anak bayi dari sejak lahir sampai umur lima tahun, ditanggung oleh negara, ternyata aturan ini kini diadopsi di Amerika.

 

Seluruh pajak pada zaman itu benar-benar disalurkan secara benar tidak ada yang diselewengkan,ditambah lagi dengan kewajiban zakat yang secara khusus disiapkan untuk membantu kemanusiaan. Kareananya pada zaman ke dua Umar tersebut rakyat tidak hanya mencapai puncak kesejahteraan tetapi juga mendapatkan keadilan hukum secara proporsional.

 

Di negara-negara maju ternyata telah mempraktikkan hukum Allah ini, mereka hidup di atas pajak secara tarnsparan pajak-pajak tersebut dikelola dengan benar. Baik untuk pengembangan infra-struktur maupun untuk kebutuhan sosial secara umum. Semakin banyak tuntutan kebutuhan infra-struktur dan sosial semakin mereka tingkatkan pajaknya. Dalam perjalanan yang saya alami ke kota-kota besar di Kanada dan Amerika, saya banyak mendegar cerita bahwa belum pernah di sana ada seorang pasien ditolak masuk rumah sakit karena tidak punya biaya. Para homeless dan jobless (orang-orang yang tidak punya rumah dan tidak punya pekerjaan) mendapatkan tunjangan khusus dari negara berupa tempat tinggal dan kebutuhan makanan. Orang-orang jompo dirawat dan ditanggung oleh negara. Bagi mereka menyelamatkan kemanusiaan adalah hal yang harus diprioritaskan.

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

Pengertian  sunnatullah dan Taghyiir.

Arti Sunnatullah

 

Sunnatullah berarti tradisi Allah dalam melaksanakan ketetapanNya sebagai Rabb yang terlaksana di alam semesta atau dalam bahasa akademis disebut hukum alam. Sunnah atau ketetapan, peraturan,ketentuan dan hukum Allah antara lain:

  1. Selalu ada dua kondisi saling ekstrem (surga-neraka, benar-salah, baik-buruk)
  1. Segala sesuatu diciptakan berpasangan (dua entitas atau lebih). Saling cocok maupun saling bertolakan.
  2. Selalu terjadi pergantian dan perubahan antara dua kondisi yang saling berbeda.
  3. Perubahan, penciptaan maupun penghancuran selalu melewati proses.
  4. Alam diciptakan dengan keteraturan.
  5. Alam diciptakan dalam keadaan seimbang.
  6. Alam diciptakan terus berkembang.
  7. Setiap terjadi kerusakan di alam manusia, Allah mengutus seorang utusan untuk memberi peringatan atau memperbaiki kerusakan tersebut.

 

Sunnatullah itu sifatnya tidak berubah-ubah. Tuhan berfirman :

 

QS. Al-Ahzab : 62

 

sp¨Zߙ «!$# †Îû šúïÏ%©!$# (#öqn=yz `ÏB ã@ö6s% ( `s9ur y‰ÅgrB Ïp¨ZÝ¡Ï9 «!$# WxƒÏ‰ö7s? ÇÏËÈ

sebagai sunnah Allah yang Berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sekali  kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah.

 

 

QS. Al-Fath : 23

sp¨Zߙ «!$# ÓÉL©9$# ô‰s% ôMn=yz `ÏB ã@ö6s% ( `s9ur y‰ÅgrB Ïp¨ZÝ¡Ï9 «!$# WxƒÏ‰ö7s? ÇËÌÈ

Itulah Sunnatullah, yang telah berlaku sejak dahulu. Dan kamu sekali-kali tidak akan menemui perubahan pada Sunnatullah itu.

 

QS. Al-Fathir : 43

 

#Y‘$t6õ3ÏFó™$# ’Îû ÇÚö‘F{$# tõ3tBur ÃØÄh¡¡9$# 4 Ÿwur ß,‹Ïts† ãõ3yJø9$# à×Äh¡¡9$# žwÎ) ¾Ï&Î#÷dr’Î/ 4 ö@ygsù šcrãÝàZtƒ žwÎ) |M¨Yߙ tûüÏ9¨rF{$# 4 `n=sù y‰ÅgrB ÏM¨YÝ¡Ï9 «!$# WxƒÏ‰ö7s? ( `s9ur y‰ÅgrB ÏM¨YÝ¡Ï9 «!$# ¸xƒÈqøtrB ÇÍÌÈ

43. karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu[1261]. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.

 

[1261] Yang dimaksud dengan sunnah orang-orang yang terdahulu ialah turunnya siksa kepada orang-orang yang mendustakan rasul.

 

Akibat kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) Sunnatullah (yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu.

 

Al-Qur’an itu dijaga/dijamin kemurniannya, oleh Tuhan :

$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨“tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ

9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya[793].

 

[793] Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.

 

Pengertian Taghyir

Taghyiir berasal dari Isim Masdar dari Fiil Madziغير yang berarti merubah, menukar atau mengganti.

Sementara itu pengertian taghyiir menurut Ibnu Mandzur dalam kitab Lisaanul Arab disebutkan

تغيَّر الشيءُ عن حاله تحوّل وغَيَّرَه حَوَّله وبدّله كأَنه جعله غير ما كان

Artinya yaitu berubahnya sesuatu dari kondisinya, menukar, merubah dan menggantinya seolah-olah ia menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

y7Ï9ºsŒ  cr’Î/ ©!$# öNs9 à7tƒ #ZŽÉitóãB ºpyJ÷èÏoR $ygyJyè÷Rr& 4’n?tã BQöqs% 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr’Î/   žcr&ur ©!$# ìì‹ÏJy™ ÒOŠÎ=tæ ÇÎÌÈ

53. (siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri[621], dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

 

[621] Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.

Tsa’labi berkata bahwa makna dari حتى يُغَيِّروا ما بأَنفسهم adalah  حتى يبدِّلوا ما أَمرهم الله(sehingga mereka merubah apa yang diperintahkan Allah kepada mereka).

Sementara itu Ibnu ‘Asyur dalam At Tahriir Wat Tanwiir berkata :

و«التغيير» تبديل شيء بما يضاده فقد يكون تبديلَ صورة جسم كما يقال : غَيّرتُ داري ، ويكون تغيير حال وصفة ومنه تغيير الشيب أي صباغه

Taghyiir (perubahan) yaitu mengganti sesuatu dengan sesuatu yang berlawanan, aku telah merubah rumahku. Dan terkadang perubahan itu mengganti keadaan atau sifat, termasuk di dalamnya adalah merubah uban yang berarti menyemirnya.

Ayat-ayat yang berkaitan dengan perubahan.

Menurut At Thobariy ayat ini berkaitan dengan azab Allah yang diberikan kepada kaum kafir quraisy diperang badar sebab dosa-dosa yang m

Imam Al-Baghowiy berkata, sesungguhnya makna dari ayat di atas adalah

أن الله تعالى لا يغير ما أنعم على قوم حتى يغيروا هم ما بهم، بالكفران وترك الشكر، فإذا فعلوا ذلك غير الله ما بهم، فسلبهم النعمة

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kenikmatan atas suatu kaum sehingga syukur. Ketika mereka melakukan hal itu maka Allah pun akan merubah kenikmatan yang ada pada mereka.

Sementara itu Syaikh Mustafa Al Maraghi menegaskan :

وفى الآية إيماء إلى أن نعم اللّه على الأمم والأفراد منوطة ابتداء ودواما بأخلاق وصفات وأعمال تقتضيها ، فما دامت هذه الشئون ثابتة لهم متمكنة منهم ، كانت تلك النعم ثابتة لهم ، واللّه لا ينتزعها منهم بغير ظلم منهم ولا جرم ، فإذا هم غيّروا ما بأنفسهم من تلك العقائد والأخلاق وما يلزم ذلك من محاسن الأعمال ، غيّر اللّه حالهم وسلب نعمتهم منهم فصار الغنى فقيرا والعزيز ذليلا والقوى ضعيفا.

Dalam ayat di atas terdapat isyarat bahwa sesungguhnya kenikmatan Allah atas suatu umat atau pribadi tergantung dengan akhlak, sifat dan perbuatan yang mereka lakukan, maka ketika sikap tersebut tetap mereka miliki dan meresap pada diri mereka, maka kenikmatan Allahpun akan tetap bersama mereka, Allah tidak akan mencabut kenikmatan mereka kedhaliman dan dosa yang mereka perbuat. Dan ketika mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka baik yang berupa aqidah maupun akhlak dan perbuatan-perbuatan baik yang selama ini ada pada diri mereka, maka Allahpun akan merubah keadaan mereka dan mencabut kenikmatanNya, maka yang kaya menjadi fakir, yang mulia menjadi hina dan yang kuat menjadi lemah.

Ayat kedua yang berbicara

ª!$# “Ï%©!$# yìsùu‘ ÏNºuq»uK¡¡9$# ΎötóÎ/ 7‰uHxå $pktX÷rts? ( §NèO 3“uqtGó™$# ’n?tã ĸöyèø9$# ( t¤‚y™ur }§ôJ¤±9$# tyJs)ø9$#ur ( @@ä. “̍øgs† 9@y_L{ ‘wK|¡•B 4 ãÎn/y‰ãƒ tøBF{$# ã@Å_ÁxÿムÏM»tƒFy$# Nä3¯=yès9 Ïä!$s)Î=Î/ öNä3În/u‘ tbqãZÏ%qè? ÇËÈ

2. Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah.

¼çms9 ×M»t7Ée)yèãB .`ÏiB Èû÷üt/ Ïm÷ƒy‰tƒ ô`ÏBur ¾ÏmÏÿù=yz ¼çmtRqÝàxÿøts† ô`ÏB ̍øBr& «!$# 3 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr’Î/ 3 !#sŒÎ)ur yŠ#u‘r& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþqߙ Ÿxsù ¨ŠttB ¼çms9 4 $tBur Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrߊ `ÏB @A#ur ÇÊÊÈ

11. bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

[767] Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.

[768] Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Wahbah Zuhaily dalam tafsir al wasithnya berkata : “Allah tidak akan merubah kenikmatan, kesehatan, keselamatan yang dimiliki suatu kaum kecuali kaum tersebut merubahnya sendiri dengan perbuatan dholim, maksiyat, fasad dan melakukan hal-hal yang berdosa.

Dasar-dasar Perubahan

Manusia menginginkan perubahan dalam pelbagai aspek kehidupan. Kerap kali mereka merasa jenuh dan bosan terhadap cara hidup yang tidak bervariasi. Mereka ingin hari ini lebih baik dari kemarin, dan yang akan datang jauh lebih baik dari sekarang. Itulah fitrah perubahan yang ada dalam diri setiap manusia.

Olehnya itu, sejak dari awal Al-Qur’an meletakkan batasan-batasan perubahan sesuai kebutuhan fitrah. Kedua ayat di atas telah menggaris bawahi dasar-dasar perubahan sebagai berikut:

1.    Keabadian suatu nikmat lebih ditentukan oleh kesiapan manusia menjaga nikmat itu sendiri

Syekh Muhammad Rasyid Ridha’ beliau berkata,“Keabadian nikmat Allah SWT terhadap suatu kaum lebih jauh ditentukan oleh akhlaq, aqidah, dan tingkah laku mereka sendiri, selagi sifat-sifat ini melekat dalam pribadi mereka, maka selama itu juga nikmat Allah SWT tetap kekal, dan mustahil Allah SWT mencabutnya dari mereka tanpa ada dosa dan kezhaliman. Tetapi, di saat mereka merubah apa yang ada pada diri mereka dari perilaku baiknya, maka pasti Allah SWT merubah apa yang ada pada diri mereka, nikmat pun dicabut, yang kaya menjadi miskin, yang mulia menjadi hina, dan yang kuat menjadi lemah, itulah dasar berkehidupan yang ada pada setiap kaum dan umat.”…

Syekh Mutawalli Sya’rawi  berkata: “Kerusakan datang dari jiwa manusia itu sendiri tatkala mereka sesat dari metode kehidupan yang Allah tetapkan.Jelas apabila ada kerusakan dan kesalahan dalam alam atau dalam diri manusia sendiri adalah karena kesalahan dari apa yang mereka perbuat sendiri. Allah selalu memberi kebaikan dan manfaat pada seluruh mahluknya apabila mereka mengusahakannya terlepas dari agama mereka masing-masing. KasihNya bagi seluruh alam menembus semua lapisan langit dan bumi tanpa membedakan satu dengan yang lain.

Di tempat lain perkataan ini dipertajam dan dipertegas dengan argumen baru, Beliau berkata: “Jika Anda melihat awal kehidupan manusia, Anda pasti tahu bahwa Allah SWT menciptakan Adam sebagai khalifah di muka bumi, dan menciptakan hawa demi kelangsungan generasi manusia, dan sebelum ia diturunkan ke bumi Allah membekalinya aturan hidup. Seandainya mereka mengikuti aturan tersebut, maka pasti mereka mendapat kebahagiaan, tetapi mereka telah berubah, dan mengingkari nikmat-nikmat itu, bahkan ingkar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Apakah Allah SWT akan mengekalkan terhadap mereka rasa aman, keselamatan, dan berbagai nikmat, sedangkan mereka telah melakukan perubahan dengan tidak mensyukuri nikmat Allah dan merubah dengan perbuatan yang buruk.

1.    Objek perubahan ada pada diri sendiri

Imam As Suyuthi dalam Ad Duurul Manshur menukil sebuah hadis dari Abi Syaibah dalam kitab Al Arsy :

وعزتي وجلالي وارتفاعي فوق عرشي ، ما من أهل قرية ولا أهل بيت ولا رجل ببادية ، كانوا على ما كرهته من معصيتي ، ثم تحوّلوا عنها إلى ما أحببت من طاعتي ، إلا تحوّلت لهم عما يكرهون من عذابي إلى ما يحبون من رحمتي؛ وما من أهل بيت ولا قرية ولا رجل ببادية كانوا على ما أحببت من طاعتي ، ثم تحولوا عنها إلى ما كرهت من معصيتي ، إلا تحولت لهم عما يحبون من رحمتي إلى ما يكرهون من غضبي » .

Allah berfirman : Demi kemuliaan dan kehormatan serta ketinggian-Ku diatas Arsy, tidaklah penduduk suatu kampung, penghuni suatu rumah, dan seorang lelaki di suatu  padang pasir yang berada dalam kondisi Kubenci karena bermaksiat kepada-Ku  kemudian mereka mengubah keadaan itu kepada keadaan yang Ku-cintai karena ketaatan kepada-Ku, melainkan pasti akan Kuubah keadaan mereka dari adzab-Ku  yang tidak mereka sukai kepada rahmat-Ku yang mereka sukai.  Dan tidaklah penghuni suatu rumah, kampung, dan seorang lelaki di padang pasir yang berada dalam keadaan yang Kucintai lantaran ketaatan mereka kepada-Ku lalu mereka berubah kepada keadaan yang Kubenci karena bermaksiat kepada-Ku, melainkan Aku ubah keadaan mereka dari mendapatkan rahmat-Ku yang mereka sukai kepada kemarahan-Ku   yang tidak mereka sukai.

Dengan demikian jelaslah bahwa Allah SWT memberikan respon tentang perubahan yang dimulai dari perubahan dari apa yang ada dalam diri manusia itu sendiri, baik kondisi manusia secara individual, di suatu rumah, maupun di masyarakat.   Dan perubahan kondisi baik dan buruk itu terkait dengan ketatan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia kepada Allah SWT, baik secara individual maupun secara kolektif.

Perubahan merupakan hukum general yang meliputi seluruh ras, suku baik mukmin maupun kafir.

Hal itu ditunjukkan dengan kata قَوْمٌ yang berbentuk nakirah (indefinitif). Kata ini termasuk kata mutlak dan ia tetap bermakna mutlak selama Syari’ tidak membatasinya dengan suatu sifat seperti iman dan selainnya.

Karena itu, maknanya tetap mencakup setiap kelompok, organisasi, masyarakat, atau negara, tanpa memandang agamanya. Ia juga Perubahan itu menyeluruh  mencakup setiap ruang dan waktu. Hal itu karena lafazh tersebut mencakup setiap masyarakat di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, sebagaimana ia mencakup setiap negara di dunia. Allah telah menetapkan berbagai sunnah dalam kehidupan dan meletakkan faktor penyebab dan undang-undang di alam semesta dan kehidupan manusia. Sunnah, faktor penyebab dan undang-undang ini menimbulkan akibat-akibatnya dan mendatangkan buahnya berdasarkan pengaruh dari Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Allah telah menganjurkan manusia untuk mencari penyebab, undang-undang dan hukum, supaya mereka dapat mengikuti petunjukNya dan berbuat menurut kehendakNya, agar mereka memperoleh buahnya. Allah menundukkan faktor penyebab, undang-undang dan hukum itu untuk kebahagiaan manusia dan untuk melayaninya di dunia.

Bekerja adalah ibadah sebagai sarana untuk mencari rizki dan rahmat Allah  . Tidak ada yang bisa dilakukan manusia selain serius dan bersungguh-sungguh dalam mencarinya dengan mengerahkan seluruh tenaga dan potensinya. Pengertian rizki itu luas berupa materi atau immateri, atau kedua-duanya.Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan usaha seseorang sekecil apapun, kalau usahanya gagal berarti ada yang salah dari apa yang dilakukannya

Sebagai contoh seorang petani ulung membajak tanah dan menabur benih unggul, dia memberi pupuk kualitas terbaik, udaranya sesuai dengan tanaman yang ia tanam. Kemudian ia bertawakkal dengan menunggu rezki dari Allah.Hasilnya dipastikan akan berlimpah atau berlipat ganda.  Kebalikannya seandainya ada seseorang berdiam diri di rumahnya tanpa mengerahkan tenaga sedikit pun untuk melakukan sesuatu, lalu ia mengira bahwa rezkinya akan datang dari hayalannya, padahal ia tidak berusaha, tidak bekerja keras dan merasakan susahnya bekerja, maka dia akan kecewa karena hidup tidak berubah dengan berhayal. Bahkan jika berhasil tiba-tiba tanpa kerja keras ia dianggap berdosa karena tidak melakukan sebab, sunnah dan undang-undang.

1.    Perubahan baik  dan buruk.

Karena perubahan itu berarti beralih dari satu kondisi ke kondisi yang lain dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Maka kadang-kadang perubahan diri itu baik (positif), yaitu perubahan dari jelek menjadi baik, atau dari baik menjadi lebih baik, sehingga hasilnya pun positif. Kadang perubahan itu buruk(negatif), dimana manusia mengubah diri dari lebih baik menjadi baik, sehingga hasilnya adalah baik dan terkadang manusia mengubah diri dari baik menjadi jelek, sehingga kondisi mereka menjadi jelek.

Allah telah merubah keadaan kaum Yunus yang semula ditimpakan adzab, menjadi kaum yang dilimpahkan kesenangan karena mereka beriman, sebagaimana yang Ia firmankan :

Ÿwöqn=sù ôMtR%x. îptƒös% ôMuZtB#uä !$ygyèxÿuZsù !$pkß]»yJƒÎ) žwÎ) tPöqs% }§çRqム!$£Js9 (#qãZtB#uä $uZøÿt±x. öNåk÷]tã z>#x‹tã ē÷“Ï‚ø9$# ’Îû Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# ÷Lài»oY÷è­GtBur 4’n<Î) &ûüÏm ÇÒÑÈ

Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.( QS Yunus:98)

Ibnu ‘Asyur menerangkan bahwa ketika Allah menghendaki kebaikan pada suatu kaum, maka Allah akan mengutus seorang Rasul untuk memberikan hidayah kepada mereka. Jika mereka memperbaiki perbuatannya maka kenikmatan Allah akan diberikan kepada mereka sebagaimana yang telah terjadi pada kaumnya Nabi Yunus yaitu penduduk Nainawa.

1.    Hukum-hukum perubahan

DR. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris berkata:” Siapapun yang membaca Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Saw. pasti memahami bahwa dakwah dan perjuangan untuk mengubah masyarakat dan sistem menjadi masyarakat dan sistem yang Islami merupakan kewajiban syar’i. Sebagaimana mengubah kemungkatan dan menegakkan ketaatan merupakan perintah Rabbani yang ditujukan kepada setiap muslim. Sebagaimana yang dijelaskan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah sebagai berikut:

  1. Allah berfirman,

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBù’tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9’ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104)

Kata “waltakun” (dan hendaklah) adalah kata perintah, karena ia berbentuk fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amr (lam yang menunjukkan arti perintah). Kita tahu bahwa perintah itu menghasilkan hukum wajib selama tidak ada indikasi(al amru lilwujubi illa ma dalla dalilu ‘ala khilafihi) yang mengalihkan hukum wajib itu kepada hukum yang lain. Karena ada banyak nash dan indikasi yang menguatkan kewajiban ini.

Berfirmannya yang lain,

Ÿwöqs9 ãNßg8pk÷]tƒ šcq–ŠÏY»­/§9$# â‘$t7ômF{$#ur `tã ÞOÏlÎ;öqs% zOøOM}$# ÞOÎgÎ=ø.r&ur |Mós¡9$# 4 š[ø¤Î6s9 $tB (#qçR%x. tbqãèoYóÁtƒ ÇÏÌÈ

“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS Al-Maidah [5]: 63)

Kata الربنيونberarti agamawan Nasrani. Kataالاخبار adalah jamak dari kata حَبْرٌ yang berarti agamawan Yahudi. Maksud dari (Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu) adalah celaan dan kecaman Allah terhadap para agamawan Nasrani dan Yahudi karena tidak menjalankan tugas perubahan. Yang dicela dari mereka adalah keengganan mereka untuk menjalankan kewajiban tersebut. Hal itu karena celaan tidak diberikan lantaran perbuatan yang mubah, tetapi karena meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang diharamkan. Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan tugas mencegah kemungkaran itu sama seperti orang yang melakukan kemungkaran. Karena ayat ini mengandung kecaman terhadap para ulama terkait tindakan mereka meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar.”

Allah berfirman melalui lisan Luqman AS,

¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4’n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷“tã ͑qãBW{$# ÇÊÐÈ

“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS Luqman [31]: 17)

Kata وآمر adalah fi’il amr (kata kerja perintah). Menurut kaidah, kata perintah itu menunjukkan arti wajib selama tidak ada indikasi yang mengalihkannya kepada hukum sunnah atau mubah. Berbagai nash dan indikasi menegaskan kewajiban ini.

Di dalam Sunnah Nabawiyyah pun terdapat banyak hadits yang menunjukkan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar. Di antaranya adalah:

1. Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Sa’id Al Khudri RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

 

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Kalau ia tidak mampu (dengan tangannya), maka dengan lisannya. Kalau ia tidak mampu (dengan lisannya), maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”

Kata مَنْ (barangsiapa) adalah bentuk kalimat umum, karena ia adalah isim maushul yang mencakup setiap mitra bicara yang sudah mukallaf, baik laki-laki atau perempuan. Dan bentuk kata فَلْيُغَيِّرْهُ (maka hendaklah ia mengubahnya) adalah fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amr. Jadi, kata ini berbentuk perintah dan menunjukkan hukum wajib.

2. Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud RA, bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

“Tidak seorang Nabi pun yang diutus Allah di tengah suatu umat sebelumku melainkan ia memiliki para pengikut setia dan sahabat dari umatnya. Mereka mengikuti sunnahnya dan mematuhi perintahnya. Kemudian muncul sesudah mereka generasi penerus yang mengucapkan sesuatu yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka dia orang mukmin. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya, maka dia orang mukmin. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka dia orang mukmin. Sesudah itu tidak ada iman sebiji sawi pun.”

untuk mengubah dan memperbaiki keadaan mereka, supaya mereka berhenti berbuat rusak dan komitmen untuk berbuat baik.

3. Mengenai firman Allah,

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ø‹n=tæ öNä3|¡àÿRr& ( Ÿw Nä.•ŽÛØtƒ `¨B ¨@|Ê #sŒÎ) óOçF÷ƒy‰tF÷d$# 4 ’n<Î) «!$# öNä3ãèÅ_ótB $YèŠÏHsd Nä3ã¥Îm;uZãŠsù $yJÎ/ öNçGZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÉÎÈ

 “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS Al-Maidah [5]: 105),

Sebagian umat Islam memahami bahwa ini adalah perintah agar seorang muslim berdiam diri saja di rumahnya, tidak berusaha melawan kezhaliman dan orang-orang zhalim. Kemudian khalifah Rasulullah Saw., yaitu Abu Bakar RA, mengoreksi pemahaman yang keliru ini. Imam Abu Daud dalam Sunan-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Qais, katanya: Setelah memuji dan menyanjung Allah, Abu Bakar berkata, “Wahai umat Islam! Sesungguhnya kalian membaca ayat ini dan menempatkannya tidak pada tempatnya: “Jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.”            Dalam riwayat dari Khalid, Abu Bakar berkata, “Dan sesungguhnya kami mendengar Nabi Saw. bersabda,

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ

“Jika manusia melihat orang zhalim lalu mereka tidak menahannya, maka tak lama lagi Allah akan menjatuhkan hukuman yang meliputi mereka semua.”

Arti lafazh ِ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ adalah mencegahnya dan menghalaunya dari berbua meninggalkan upaya perbaikan, enggan mencegah orang zhalim agar tidak berbuat zhalim. Ancaman yang demikian itu tidak diberikan kecuali karena meninggalkan kewajiban atau melakukan sesuatu yang diharamkan. Dan yang diancam dalam hadits ini adalah meninggalkan upaya perubahan. Jadi, hadits ini menunjukkan bahwa hukum upaya perubahan adalah wajib.

Hal itu ditegaskan dengan riwayat ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali kalian berdiri di samping seseorang orang yang dibunuh secara zhalim. Karena sesungguhnya laknat itu turun pada orang yang menyaksikannya tetapi tidak membelanya. Dan janganlah sekali-kali kamu berdiri di samping orang yang dipukul secara zhalim. Karena sesungguhnya laknat itu turun pada orang yang menyaksikanya tetapi tidak membelanya.”

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Kenikmatan yang dilimpahkan Allah kepada manusia dapat hilang dan berubah menjadi adzab apabila manusia berbuat durhaka dan maksiyat kepada Allah. Begitupun sebaliknya, keadaan yang buruk yang menimpa manusia akan berubah menjadi menyenangkan dan penuh nikmat apabila manusia berlaku takwa dan beramal sholeh.

Perubahan keadaan manusia dari positif ke negative ataupun sebaliknya tersebut sudah menjadi sunnatullah. Allah telah membuat aturan-aturan baku di ala mini, siapapun yang dapat menjalankan aturan-aturannya ini maka ia telah berhasil merengkuh sunnatullah.

Perubahan yang mesti dilakukan adalah perubahan secara individu yang dapat berdampak secara universal, karena perubahan secara bersama inilah yang dikehendaki oleh Allah terbukti dengan penggunaan kata kaum. Perubahan yang dilakukan secara bersama-sama ini akan membawa imbas yang lebih luas.

        Pertama kali aqidah yang ditanamkan Islam dalam jiwa pemeluknya, yaitu: bahwa alam semesta yang didiami manusia di permukaan bumi dan di bawah kolong langit tidak berjalan tanpa aturan dan tanpa bimbingan, dan tidak juga berjalan mengikuti kehendak hawa nafsu seseorang. Sebab hawa nafsu manusia, karena kebutaan dan kesesatannya, selalu bertentangan.

Firman Allah:

Èqs9ur yìt7©?$# ‘,ysø9$# öNèduä!#uq÷dr& ÏNy‰|¡xÿs9 ÝVºuq»yJ¡¡9$# ÞÚö‘F{$#ur `tBur  ÆÎgŠÏù 4 ö@t/ Nßg»oY÷s?r& öNÏd̍ò2ɋÎ/ óOßgsù `tã NÏd̍ø.ό šcqàÊ̍÷è•B ÇÐÊÈ

“Andai kata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (al-Mu’minun: 71)

Namun perlu dimaklumi, bahwa alam ini dikendalikan dengan undang-undang dan hukum yang tetap, tidak pernah berubah dan berganti, sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Quran dalam beberapa ayat, antara lain sebagai berikut:

Kaum muslimin telah belajar dari kitabullah dan sunnah Rasul supaya menjunjung tinggi sunnatullah yang berbentuk alam semesta ini dan mencari musabab yang diperoleh dari sebab-sebab yang telah diikatnya oleh Allah, serta supaya mereka menolak apa yang dikatakan sebab yang sekedar dugaan semata yang biasa dilakukan oleh para biksu, ahli-ahli khurafat dan pedagang agama.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.dakwatuna.com/2010/05/6150/rahasia-sunnatullah/#ixzz27niL4C7p

Abd al Hayy al Farmawiy, Al Bidayah Fi al Tafsir al Maudhuiy; Dirasah Manhajiyah al   Mauwdhu’iy, Metode Tafsir Maudhui, Terj Suryan A. Jamrah (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996),

Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Hadits no.3775, Maktabah Syamilah versi 3

Ahmad warson munawwir, Kamus Al-Munawwir, Pustaka Progresif 1997

Azra,Azyumardi Sejarah Ulumul Qur’an, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1999.

http:// eramuslim.com

Ibnu ‘Asyur, At Tahriir Wat Tanwiir, Juz 6, hal.174, Maktabah Syamilah versi 3

Ibnu Jarir Ath Thobari, Tafsir Ath Thobariy, juz.14.hal.19, Mkatabah Syamilah Versi 3

Ibnu Mandzur, Lisaanul Arob, Dar ash Shodir Beirut, 2004

Ibnu Mas’ud Al-Baghowiy, Mu’alimut Tanzil, Dar At Thaibah Riyadh 1997

Imam Muslim Bin Hajjaj, Shahih Muslim, Toha Putra, Semarang 1990

Muhammad Amin Suma, Studi Ilmu-ilmu Al Qur’an 2, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2001

Muhammad Rasyid Ridha’, Tafsir al-Manâr, Dâr al-Manâr, Cairo-Egypt, cet. 2, 1368

Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, , Maktabah Syamilah versi 3

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2001.

 

Shihab, Quraish, Membumikan Alquran. Bandung: Mizan, 2002.

 

Subhi Salih, Mabahis Fi Ulumil Qur’an, trjmh Tim Pustaka Firdaus, cet kedelapan, Jakarta, Pustaka Firdaus

Syekh Mutawalli as-Sya’rawi, Tafsir as-Sya’rawi, vol. 5

Wahbah Zuhaily, Tafsir Al Wasith, Dar el Kitab Beirut, 1999,

 

SUNNATULLAH DALAM PERUBAHAN KEADAAN MANUSIA MENURUT AL-QUR’AN

Pendahuluan

Al-qur’an sebagai way of life  telah mengatur semua kehidupan manusia di alam sini secara pasti termasuk sunnatullah. Manusia sebagai khalifah fil’ardl yang melaksanakan perintah Alah dengan sebaik-baiknya dia akan mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan baik dunia maupun akhirat , inilah yang disebut sunnatullah.Sunnatullah berlaku sesuai perbuatan manusia sendiri baik atau buruknya.

Kondisi manusia pada dasarnya bisa dirubah apabila ada kemauan dari manusia itu sendiri untuk merubahnya. Iman, akhlak dan tingkah laku yang baik akan dapat merubah kondisi negative yang dialami seseorang menjadi kondisi positif yang penuh kenikmatan.Sebab Allah telah memberlakukan hukum sebab akibat di dunia ini. Siapapun yang melaksanakannya sebab dengan baik maka ia akan mendapatkan akibat  yang baik juga, seseorang  menanam padi hasilnya pasti padi bukan jagung.Menanam kebaikan pasti akan berbuah kebaikan juga karena sudah janji Allah.

Hal ini mestinya disadari oleh manusia, bahwa untuk mencapai kemajuan tidak mungkin dapat dicapai dengan berkhayal dan berpangku tangan semata sambil menunggu pertolongan Allah, akan tetapi kemajuan itu harus diusahakan dan dijemput dengan usaha dan kerja keras yang maksimal. Perubahan keadaan manusia itu merupakan sunnatullah, yang letak keberhasilannya digantungkan dari usaha manusia itu sendiri untuk berubah.

Di sini dapat dicatat bahwa hidup di dunia tidak cukup hanya dengan patuh kepada syariatullah tetapi juga harus patuh kepada sunnatullah. Islam bukan hanya syariatullah tetapi juga sunnatullah.Rasulullah saw tidak hanya mengajarkan shalat dan puasa tetapi juga mengajarkan kejujuran dan keadilan, kerapian, kerja keras, kedisiplinan, kesungguhan menegakkan hukum (sisi yang kedua ini termasuk sunnatullah). Islam tidak hanya melarang tindakan mengabaikan shalat, puasa dan ritual lainnya, tetapi juga melarang sogok menyogok, korupsi, menipu, kedzaliman dan sebagainya. Dalam kenyataan sehari-hari di tengah umat Islam masih banyak yang tidak mengambil Islam secara lengkap, hanya sisi syariahnya (baca: ritualnya) saja, sementara sunnatullah di lapangan sosial diabaikan.

 

Kebiasaan tidak jujur seperti korupsi, menipu(kadzib), sogok menyogok(rosyi walmurtasyi),  dianggap pemandangan yang biasa dikalangan umat Islam yang mengaku berpegang teguh pada Al-Qur’an. Sementara negara-negara maju, sangat takut dari kebiasaan seperti ini padahal mereka bukan orang Islam. Setiap tindakan melanggar hokum seperti menipu, sogok-menyogok, korupsi dan lain sebagainya  sekecil apapun mereka lakukan, akan ditindak secara hukum dengan tegas. Karenanya mereka maju secara keduniaan.

 

Sementara di sisi lain  kita menyaksikan orang-orang Islam tidak berdaya mati dipojok masjid, tidak dapat menghidupi sendiri dan tidak bisa memberikan kontribusi bagi kemanusiaan secara luas. Padahal dalam sejarah Islam, telah terbukti bahwa umat ini pernah memimpin seperempat dunia, dengan kegemilangan sejarah tak terhingga bagi kemanusiaan. Puncaknya di zaman Umar Bin Khatthab(era khulafauraasyidin) lalu di zaman Umar bin Abdul Aziz(umayyah). Pada zaman itu tidak ada seorangpun yang didzalimi. Umar bin Khaththab pernah mengumumkan bahwa anak bayi dari sejak lahir sampai umur lima tahun, ditanggung oleh negara, ternyata aturan ini kini diadopsi di Amerika.

 

Seluruh pajak pada zaman itu benar-benar disalurkan secara benar tidak ada yang diselewengkan,ditambah lagi dengan kewajiban zakat yang secara khusus disiapkan untuk membantu kemanusiaan. Kareananya pada zaman ke dua Umar tersebut rakyat tidak hanya mencapai puncak kesejahteraan tetapi juga mendapatkan keadilan hukum secara proporsional.

 

Di negara-negara maju ternyata telah mempraktikkan hukum Allah ini, mereka hidup di atas pajak secara tarnsparan pajak-pajak tersebut dikelola dengan benar. Baik untuk pengembangan infra-struktur maupun untuk kebutuhan sosial secara umum. Semakin banyak tuntutan kebutuhan infra-struktur dan sosial semakin mereka tingkatkan pajaknya. Dalam perjalanan yang saya alami ke kota-kota besar di Kanada dan Amerika, saya banyak mendegar cerita bahwa belum pernah di sana ada seorang pasien ditolak masuk rumah sakit karena tidak punya biaya. Para homeless dan jobless (orang-orang yang tidak punya rumah dan tidak punya pekerjaan) mendapatkan tunjangan khusus dari negara berupa tempat tinggal dan kebutuhan makanan. Orang-orang jompo dirawat dan ditanggung oleh negara. Bagi mereka menyelamatkan kemanusiaan adalah hal yang harus diprioritaskan.

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

Pengertian  sunnatullah dan Taghyiir.

Arti Sunnatullah

 

Sunnatullah berarti tradisi Allah dalam melaksanakan ketetapanNya sebagai Rabb yang terlaksana di alam semesta atau dalam bahasa akademis disebut hukum alam. Sunnah atau ketetapan, peraturan,ketentuan dan hukum Allah antara lain:

  1. Selalu ada dua kondisi saling ekstrem (surga-neraka, benar-salah, baik-buruk)
  1. Segala sesuatu diciptakan berpasangan (dua entitas atau lebih). Saling cocok maupun saling bertolakan.
  2. Selalu terjadi pergantian dan perubahan antara dua kondisi yang saling berbeda.
  3. Perubahan, penciptaan maupun penghancuran selalu melewati proses.
  4. Alam diciptakan dengan keteraturan.
  5. Alam diciptakan dalam keadaan seimbang.
  6. Alam diciptakan terus berkembang.
  7. Setiap terjadi kerusakan di alam manusia, Allah mengutus seorang utusan untuk memberi peringatan atau memperbaiki kerusakan tersebut.

 

Sunnatullah itu sifatnya tidak berubah-ubah. Tuhan berfirman :

 

QS. Al-Ahzab : 62

 

sp¨Zߙ «!$# †Îû šúïÏ%©!$# (#öqn=yz `ÏB ã@ö6s% ( `s9ur y‰ÅgrB Ïp¨ZÝ¡Ï9 «!$# WxƒÏ‰ö7s? ÇÏËÈ

sebagai sunnah Allah yang Berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sekali  kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah.

 

 

QS. Al-Fath : 23

sp¨Zߙ «!$# ÓÉL©9$# ô‰s% ôMn=yz `ÏB ã@ö6s% ( `s9ur y‰ÅgrB Ïp¨ZÝ¡Ï9 «!$# WxƒÏ‰ö7s? ÇËÌÈ

Itulah Sunnatullah, yang telah berlaku sejak dahulu. Dan kamu sekali-kali tidak akan menemui perubahan pada Sunnatullah itu.

 

QS. Al-Fathir : 43

 

#Y‘$t6õ3ÏFó™$# ’Îû ÇÚö‘F{$# tõ3tBur ÃØÄh¡¡9$# 4 Ÿwur ß,‹Ïts† ãõ3yJø9$# à×Äh¡¡9$# žwÎ) ¾Ï&Î#÷dr’Î/ 4 ö@ygsù šcrãÝàZtƒ žwÎ) |M¨Yߙ tûüÏ9¨rF{$# 4 `n=sù y‰ÅgrB ÏM¨YÝ¡Ï9 «!$# WxƒÏ‰ö7s? ( `s9ur y‰ÅgrB ÏM¨YÝ¡Ï9 «!$# ¸xƒÈqøtrB ÇÍÌÈ

43. karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu[1261]. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.

 

[1261] Yang dimaksud dengan sunnah orang-orang yang terdahulu ialah turunnya siksa kepada orang-orang yang mendustakan rasul.

 

Akibat kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) Sunnatullah (yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu.

 

Al-Qur’an itu dijaga/dijamin kemurniannya, oleh Tuhan :

$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨“tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ

9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya[793].

 

[793] Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.

 

Pengertian Taghyir

Taghyiir berasal dari Isim Masdar dari Fiil Madziغير yang berarti merubah, menukar atau mengganti.

Sementara itu pengertian taghyiir menurut Ibnu Mandzur dalam kitab Lisaanul Arab disebutkan

تغيَّر الشيءُ عن حاله تحوّل وغَيَّرَه حَوَّله وبدّله كأَنه جعله غير ما كان

Artinya yaitu berubahnya sesuatu dari kondisinya, menukar, merubah dan menggantinya seolah-olah ia menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

y7Ï9ºsŒ  cr’Î/ ©!$# öNs9 à7tƒ #ZŽÉitóãB ºpyJ÷èÏoR $ygyJyè÷Rr& 4’n?tã BQöqs% 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr’Î/   žcr&ur ©!$# ìì‹ÏJy™ ÒOŠÎ=tæ ÇÎÌÈ

53. (siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri[621], dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

 

[621] Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.

Tsa’labi berkata bahwa makna dari حتى يُغَيِّروا ما بأَنفسهم adalah  حتى يبدِّلوا ما أَمرهم الله(sehingga mereka merubah apa yang diperintahkan Allah kepada mereka).

Sementara itu Ibnu ‘Asyur dalam At Tahriir Wat Tanwiir berkata :

و«التغيير» تبديل شيء بما يضاده فقد يكون تبديلَ صورة جسم كما يقال : غَيّرتُ داري ، ويكون تغيير حال وصفة ومنه تغيير الشيب أي صباغه

Taghyiir (perubahan) yaitu mengganti sesuatu dengan sesuatu yang berlawanan, aku telah merubah rumahku. Dan terkadang perubahan itu mengganti keadaan atau sifat, termasuk di dalamnya adalah merubah uban yang berarti menyemirnya.

Ayat-ayat yang berkaitan dengan perubahan.

Menurut At Thobariy ayat ini berkaitan dengan azab Allah yang diberikan kepada kaum kafir quraisy diperang badar sebab dosa-dosa yang m

Imam Al-Baghowiy berkata, sesungguhnya makna dari ayat di atas adalah

أن الله تعالى لا يغير ما أنعم على قوم حتى يغيروا هم ما بهم، بالكفران وترك الشكر، فإذا فعلوا ذلك غير الله ما بهم، فسلبهم النعمة

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kenikmatan atas suatu kaum sehingga syukur. Ketika mereka melakukan hal itu maka Allah pun akan merubah kenikmatan yang ada pada mereka.

Sementara itu Syaikh Mustafa Al Maraghi menegaskan :

وفى الآية إيماء إلى أن نعم اللّه على الأمم والأفراد منوطة ابتداء ودواما بأخلاق وصفات وأعمال تقتضيها ، فما دامت هذه الشئون ثابتة لهم متمكنة منهم ، كانت تلك النعم ثابتة لهم ، واللّه لا ينتزعها منهم بغير ظلم منهم ولا جرم ، فإذا هم غيّروا ما بأنفسهم من تلك العقائد والأخلاق وما يلزم ذلك من محاسن الأعمال ، غيّر اللّه حالهم وسلب نعمتهم منهم فصار الغنى فقيرا والعزيز ذليلا والقوى ضعيفا.

Dalam ayat di atas terdapat isyarat bahwa sesungguhnya kenikmatan Allah atas suatu umat atau pribadi tergantung dengan akhlak, sifat dan perbuatan yang mereka lakukan, maka ketika sikap tersebut tetap mereka miliki dan meresap pada diri mereka, maka kenikmatan Allahpun akan tetap bersama mereka, Allah tidak akan mencabut kenikmatan mereka kedhaliman dan dosa yang mereka perbuat. Dan ketika mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka baik yang berupa aqidah maupun akhlak dan perbuatan-perbuatan baik yang selama ini ada pada diri mereka, maka Allahpun akan merubah keadaan mereka dan mencabut kenikmatanNya, maka yang kaya menjadi fakir, yang mulia menjadi hina dan yang kuat menjadi lemah.

Ayat kedua yang berbicara

ª!$# “Ï%©!$# yìsùu‘ ÏNºuq»uK¡¡9$# ΎötóÎ/ 7‰uHxå $pktX÷rts? ( §NèO 3“uqtGó™$# ’n?tã ĸöyèø9$# ( t¤‚y™ur }§ôJ¤±9$# tyJs)ø9$#ur ( @@ä. “̍øgs† 9@y_L{ ‘wK|¡•B 4 ãÎn/y‰ãƒ tøBF{$# ã@Å_ÁxÿムÏM»tƒFy$# Nä3¯=yès9 Ïä!$s)Î=Î/ öNä3În/u‘ tbqãZÏ%qè? ÇËÈ

2. Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah.

¼çms9 ×M»t7Ée)yèãB .`ÏiB Èû÷üt/ Ïm÷ƒy‰tƒ ô`ÏBur ¾ÏmÏÿù=yz ¼çmtRqÝàxÿøts† ô`ÏB ̍øBr& «!$# 3 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr’Î/ 3 !#sŒÎ)ur yŠ#u‘r& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþqߙ Ÿxsù ¨ŠttB ¼çms9 4 $tBur Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrߊ `ÏB @A#ur ÇÊÊÈ

11. bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

[767] Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.

[768] Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Wahbah Zuhaily dalam tafsir al wasithnya berkata : “Allah tidak akan merubah kenikmatan, kesehatan, keselamatan yang dimiliki suatu kaum kecuali kaum tersebut merubahnya sendiri dengan perbuatan dholim, maksiyat, fasad dan melakukan hal-hal yang berdosa.

Dasar-dasar Perubahan

Manusia menginginkan perubahan dalam pelbagai aspek kehidupan. Kerap kali mereka merasa jenuh dan bosan terhadap cara hidup yang tidak bervariasi. Mereka ingin hari ini lebih baik dari kemarin, dan yang akan datang jauh lebih baik dari sekarang. Itulah fitrah perubahan yang ada dalam diri setiap manusia.

Olehnya itu, sejak dari awal Al-Qur’an meletakkan batasan-batasan perubahan sesuai kebutuhan fitrah. Kedua ayat di atas telah menggaris bawahi dasar-dasar perubahan sebagai berikut:

1.    Keabadian suatu nikmat lebih ditentukan oleh kesiapan manusia menjaga nikmat itu sendiri

Syekh Muhammad Rasyid Ridha’ beliau berkata,“Keabadian nikmat Allah SWT terhadap suatu kaum lebih jauh ditentukan oleh akhlaq, aqidah, dan tingkah laku mereka sendiri, selagi sifat-sifat ini melekat dalam pribadi mereka, maka selama itu juga nikmat Allah SWT tetap kekal, dan mustahil Allah SWT mencabutnya dari mereka tanpa ada dosa dan kezhaliman. Tetapi, di saat mereka merubah apa yang ada pada diri mereka dari perilaku baiknya, maka pasti Allah SWT merubah apa yang ada pada diri mereka, nikmat pun dicabut, yang kaya menjadi miskin, yang mulia menjadi hina, dan yang kuat menjadi lemah, itulah dasar berkehidupan yang ada pada setiap kaum dan umat.”…

Syekh Mutawalli Sya’rawi  berkata: “Kerusakan datang dari jiwa manusia itu sendiri tatkala mereka sesat dari metode kehidupan yang Allah tetapkan.Jelas apabila ada kerusakan dan kesalahan dalam alam atau dalam diri manusia sendiri adalah karena kesalahan dari apa yang mereka perbuat sendiri. Allah selalu memberi kebaikan dan manfaat pada seluruh mahluknya apabila mereka mengusahakannya terlepas dari agama mereka masing-masing. KasihNya bagi seluruh alam menembus semua lapisan langit dan bumi tanpa membedakan satu dengan yang lain.

Di tempat lain perkataan ini dipertajam dan dipertegas dengan argumen baru, Beliau berkata: “Jika Anda melihat awal kehidupan manusia, Anda pasti tahu bahwa Allah SWT menciptakan Adam sebagai khalifah di muka bumi, dan menciptakan hawa demi kelangsungan generasi manusia, dan sebelum ia diturunkan ke bumi Allah membekalinya aturan hidup. Seandainya mereka mengikuti aturan tersebut, maka pasti mereka mendapat kebahagiaan, tetapi mereka telah berubah, dan mengingkari nikmat-nikmat itu, bahkan ingkar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Apakah Allah SWT akan mengekalkan terhadap mereka rasa aman, keselamatan, dan berbagai nikmat, sedangkan mereka telah melakukan perubahan dengan tidak mensyukuri nikmat Allah dan merubah dengan perbuatan yang buruk.

1.    Objek perubahan ada pada diri sendiri

Imam As Suyuthi dalam Ad Duurul Manshur menukil sebuah hadis dari Abi Syaibah dalam kitab Al Arsy :

وعزتي وجلالي وارتفاعي فوق عرشي ، ما من أهل قرية ولا أهل بيت ولا رجل ببادية ، كانوا على ما كرهته من معصيتي ، ثم تحوّلوا عنها إلى ما أحببت من طاعتي ، إلا تحوّلت لهم عما يكرهون من عذابي إلى ما يحبون من رحمتي؛ وما من أهل بيت ولا قرية ولا رجل ببادية كانوا على ما أحببت من طاعتي ، ثم تحولوا عنها إلى ما كرهت من معصيتي ، إلا تحولت لهم عما يحبون من رحمتي إلى ما يكرهون من غضبي » .

Allah berfirman : Demi kemuliaan dan kehormatan serta ketinggian-Ku diatas Arsy, tidaklah penduduk suatu kampung, penghuni suatu rumah, dan seorang lelaki di suatu  padang pasir yang berada dalam kondisi Kubenci karena bermaksiat kepada-Ku  kemudian mereka mengubah keadaan itu kepada keadaan yang Ku-cintai karena ketaatan kepada-Ku, melainkan pasti akan Kuubah keadaan mereka dari adzab-Ku  yang tidak mereka sukai kepada rahmat-Ku yang mereka sukai.  Dan tidaklah penghuni suatu rumah, kampung, dan seorang lelaki di padang pasir yang berada dalam keadaan yang Kucintai lantaran ketaatan mereka kepada-Ku lalu mereka berubah kepada keadaan yang Kubenci karena bermaksiat kepada-Ku, melainkan Aku ubah keadaan mereka dari mendapatkan rahmat-Ku yang mereka sukai kepada kemarahan-Ku   yang tidak mereka sukai.

Dengan demikian jelaslah bahwa Allah SWT memberikan respon tentang perubahan yang dimulai dari perubahan dari apa yang ada dalam diri manusia itu sendiri, baik kondisi manusia secara individual, di suatu rumah, maupun di masyarakat.   Dan perubahan kondisi baik dan buruk itu terkait dengan ketatan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia kepada Allah SWT, baik secara individual maupun secara kolektif.

Perubahan merupakan hukum general yang meliputi seluruh ras, suku baik mukmin maupun kafir.

Hal itu ditunjukkan dengan kata قَوْمٌ yang berbentuk nakirah (indefinitif). Kata ini termasuk kata mutlak dan ia tetap bermakna mutlak selama Syari’ tidak membatasinya dengan suatu sifat seperti iman dan selainnya.

Karena itu, maknanya tetap mencakup setiap kelompok, organisasi, masyarakat, atau negara, tanpa memandang agamanya. Ia juga Perubahan itu menyeluruh  mencakup setiap ruang dan waktu. Hal itu karena lafazh tersebut mencakup setiap masyarakat di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, sebagaimana ia mencakup setiap negara di dunia. Allah telah menetapkan berbagai sunnah dalam kehidupan dan meletakkan faktor penyebab dan undang-undang di alam semesta dan kehidupan manusia. Sunnah, faktor penyebab dan undang-undang ini menimbulkan akibat-akibatnya dan mendatangkan buahnya berdasarkan pengaruh dari Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Allah telah menganjurkan manusia untuk mencari penyebab, undang-undang dan hukum, supaya mereka dapat mengikuti petunjukNya dan berbuat menurut kehendakNya, agar mereka memperoleh buahnya. Allah menundukkan faktor penyebab, undang-undang dan hukum itu untuk kebahagiaan manusia dan untuk melayaninya di dunia.

Bekerja adalah ibadah sebagai sarana untuk mencari rizki dan rahmat Allah  . Tidak ada yang bisa dilakukan manusia selain serius dan bersungguh-sungguh dalam mencarinya dengan mengerahkan seluruh tenaga dan potensinya. Pengertian rizki itu luas berupa materi atau immateri, atau kedua-duanya.Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan usaha seseorang sekecil apapun, kalau usahanya gagal berarti ada yang salah dari apa yang dilakukannya

Sebagai contoh seorang petani ulung membajak tanah dan menabur benih unggul, dia memberi pupuk kualitas terbaik, udaranya sesuai dengan tanaman yang ia tanam. Kemudian ia bertawakkal dengan menunggu rezki dari Allah.Hasilnya dipastikan akan berlimpah atau berlipat ganda.  Kebalikannya seandainya ada seseorang berdiam diri di rumahnya tanpa mengerahkan tenaga sedikit pun untuk melakukan sesuatu, lalu ia mengira bahwa rezkinya akan datang dari hayalannya, padahal ia tidak berusaha, tidak bekerja keras dan merasakan susahnya bekerja, maka dia akan kecewa karena hidup tidak berubah dengan berhayal. Bahkan jika berhasil tiba-tiba tanpa kerja keras ia dianggap berdosa karena tidak melakukan sebab, sunnah dan undang-undang.

1.    Perubahan baik  dan buruk.

Karena perubahan itu berarti beralih dari satu kondisi ke kondisi yang lain dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Maka kadang-kadang perubahan diri itu baik (positif), yaitu perubahan dari jelek menjadi baik, atau dari baik menjadi lebih baik, sehingga hasilnya pun positif. Kadang perubahan itu buruk(negatif), dimana manusia mengubah diri dari lebih baik menjadi baik, sehingga hasilnya adalah baik dan terkadang manusia mengubah diri dari baik menjadi jelek, sehingga kondisi mereka menjadi jelek.

Allah telah merubah keadaan kaum Yunus yang semula ditimpakan adzab, menjadi kaum yang dilimpahkan kesenangan karena mereka beriman, sebagaimana yang Ia firmankan :

Ÿwöqn=sù ôMtR%x. îptƒös% ôMuZtB#uä !$ygyèxÿuZsù !$pkß]»yJƒÎ) žwÎ) tPöqs% }§çRqム!$£Js9 (#qãZtB#uä $uZøÿt±x. öNåk÷]tã z>#x‹tã ē÷“Ï‚ø9$# ’Îû Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# ÷Lài»oY÷è­GtBur 4’n<Î) &ûüÏm ÇÒÑÈ

Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.( QS Yunus:98)

Ibnu ‘Asyur menerangkan bahwa ketika Allah menghendaki kebaikan pada suatu kaum, maka Allah akan mengutus seorang Rasul untuk memberikan hidayah kepada mereka. Jika mereka memperbaiki perbuatannya maka kenikmatan Allah akan diberikan kepada mereka sebagaimana yang telah terjadi pada kaumnya Nabi Yunus yaitu penduduk Nainawa.

1.    Hukum-hukum perubahan

DR. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris berkata:” Siapapun yang membaca Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Saw. pasti memahami bahwa dakwah dan perjuangan untuk mengubah masyarakat dan sistem menjadi masyarakat dan sistem yang Islami merupakan kewajiban syar’i. Sebagaimana mengubah kemungkatan dan menegakkan ketaatan merupakan perintah Rabbani yang ditujukan kepada setiap muslim. Sebagaimana yang dijelaskan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah sebagai berikut:

  1. Allah berfirman,

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBù’tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9’ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104)

Kata “waltakun” (dan hendaklah) adalah kata perintah, karena ia berbentuk fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amr (lam yang menunjukkan arti perintah). Kita tahu bahwa perintah itu menghasilkan hukum wajib selama tidak ada indikasi(al amru lilwujubi illa ma dalla dalilu ‘ala khilafihi) yang mengalihkan hukum wajib itu kepada hukum yang lain. Karena ada banyak nash dan indikasi yang menguatkan kewajiban ini.

Berfirmannya yang lain,

Ÿwöqs9 ãNßg8pk÷]tƒ šcq–ŠÏY»­/§9$# â‘$t7ômF{$#ur `tã ÞOÏlÎ;öqs% zOøOM}$# ÞOÎgÎ=ø.r&ur |Mós¡9$# 4 š[ø¤Î6s9 $tB (#qçR%x. tbqãèoYóÁtƒ ÇÏÌÈ

“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS Al-Maidah [5]: 63)

Kata الربنيونberarti agamawan Nasrani. Kataالاخبار adalah jamak dari kata حَبْرٌ yang berarti agamawan Yahudi. Maksud dari (Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu) adalah celaan dan kecaman Allah terhadap para agamawan Nasrani dan Yahudi karena tidak menjalankan tugas perubahan. Yang dicela dari mereka adalah keengganan mereka untuk menjalankan kewajiban tersebut. Hal itu karena celaan tidak diberikan lantaran perbuatan yang mubah, tetapi karena meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang diharamkan. Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan tugas mencegah kemungkaran itu sama seperti orang yang melakukan kemungkaran. Karena ayat ini mengandung kecaman terhadap para ulama terkait tindakan mereka meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar.”

Allah berfirman melalui lisan Luqman AS,

¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4’n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷“tã ͑qãBW{$# ÇÊÐÈ

“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS Luqman [31]: 17)

Kata وآمر adalah fi’il amr (kata kerja perintah). Menurut kaidah, kata perintah itu menunjukkan arti wajib selama tidak ada indikasi yang mengalihkannya kepada hukum sunnah atau mubah. Berbagai nash dan indikasi menegaskan kewajiban ini.

Di dalam Sunnah Nabawiyyah pun terdapat banyak hadits yang menunjukkan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar. Di antaranya adalah:

1. Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Sa’id Al Khudri RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

 

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Kalau ia tidak mampu (dengan tangannya), maka dengan lisannya. Kalau ia tidak mampu (dengan lisannya), maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”

Kata مَنْ (barangsiapa) adalah bentuk kalimat umum, karena ia adalah isim maushul yang mencakup setiap mitra bicara yang sudah mukallaf, baik laki-laki atau perempuan. Dan bentuk kata فَلْيُغَيِّرْهُ (maka hendaklah ia mengubahnya) adalah fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amr. Jadi, kata ini berbentuk perintah dan menunjukkan hukum wajib.

2. Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud RA, bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

“Tidak seorang Nabi pun yang diutus Allah di tengah suatu umat sebelumku melainkan ia memiliki para pengikut setia dan sahabat dari umatnya. Mereka mengikuti sunnahnya dan mematuhi perintahnya. Kemudian muncul sesudah mereka generasi penerus yang mengucapkan sesuatu yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka dia orang mukmin. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya, maka dia orang mukmin. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka dia orang mukmin. Sesudah itu tidak ada iman sebiji sawi pun.”

untuk mengubah dan memperbaiki keadaan mereka, supaya mereka berhenti berbuat rusak dan komitmen untuk berbuat baik.

3. Mengenai firman Allah,

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ø‹n=tæ öNä3|¡àÿRr& ( Ÿw Nä.•ŽÛØtƒ `¨B ¨@|Ê #sŒÎ) óOçF÷ƒy‰tF÷d$# 4 ’n<Î) «!$# öNä3ãèÅ_ótB $YèŠÏHsd Nä3ã¥Îm;uZãŠsù $yJÎ/ öNçGZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÉÎÈ

 “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS Al-Maidah [5]: 105),

Sebagian umat Islam memahami bahwa ini adalah perintah agar seorang muslim berdiam diri saja di rumahnya, tidak berusaha melawan kezhaliman dan orang-orang zhalim. Kemudian khalifah Rasulullah Saw., yaitu Abu Bakar RA, mengoreksi pemahaman yang keliru ini. Imam Abu Daud dalam Sunan-nya meriwayatkan dengan sanadnya dari Qais, katanya: Setelah memuji dan menyanjung Allah, Abu Bakar berkata, “Wahai umat Islam! Sesungguhnya kalian membaca ayat ini dan menempatkannya tidak pada tempatnya: “Jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.”            Dalam riwayat dari Khalid, Abu Bakar berkata, “Dan sesungguhnya kami mendengar Nabi Saw. bersabda,

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ

“Jika manusia melihat orang zhalim lalu mereka tidak menahannya, maka tak lama lagi Allah akan menjatuhkan hukuman yang meliputi mereka semua.”

Arti lafazh ِ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ adalah mencegahnya dan menghalaunya dari berbua meninggalkan upaya perbaikan, enggan mencegah orang zhalim agar tidak berbuat zhalim. Ancaman yang demikian itu tidak diberikan kecuali karena meninggalkan kewajiban atau melakukan sesuatu yang diharamkan. Dan yang diancam dalam hadits ini adalah meninggalkan upaya perubahan. Jadi, hadits ini menunjukkan bahwa hukum upaya perubahan adalah wajib.

Hal itu ditegaskan dengan riwayat ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali kalian berdiri di samping seseorang orang yang dibunuh secara zhalim. Karena sesungguhnya laknat itu turun pada orang yang menyaksikannya tetapi tidak membelanya. Dan janganlah sekali-kali kamu berdiri di samping orang yang dipukul secara zhalim. Karena sesungguhnya laknat itu turun pada orang yang menyaksikanya tetapi tidak membelanya.”

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Kenikmatan yang dilimpahkan Allah kepada manusia dapat hilang dan berubah menjadi adzab apabila manusia berbuat durhaka dan maksiyat kepada Allah. Begitupun sebaliknya, keadaan yang buruk yang menimpa manusia akan berubah menjadi menyenangkan dan penuh nikmat apabila manusia berlaku takwa dan beramal sholeh.

Perubahan keadaan manusia dari positif ke negative ataupun sebaliknya tersebut sudah menjadi sunnatullah. Allah telah membuat aturan-aturan baku di ala mini, siapapun yang dapat menjalankan aturan-aturannya ini maka ia telah berhasil merengkuh sunnatullah.

Perubahan yang mesti dilakukan adalah perubahan secara individu yang dapat berdampak secara universal, karena perubahan secara bersama inilah yang dikehendaki oleh Allah terbukti dengan penggunaan kata kaum. Perubahan yang dilakukan secara bersama-sama ini akan membawa imbas yang lebih luas.

        Pertama kali aqidah yang ditanamkan Islam dalam jiwa pemeluknya, yaitu: bahwa alam semesta yang didiami manusia di permukaan bumi dan di bawah kolong langit tidak berjalan tanpa aturan dan tanpa bimbingan, dan tidak juga berjalan mengikuti kehendak hawa nafsu seseorang. Sebab hawa nafsu manusia, karena kebutaan dan kesesatannya, selalu bertentangan.

Firman Allah:

Èqs9ur yìt7©?$# ‘,ysø9$# öNèduä!#uq÷dr& ÏNy‰|¡xÿs9 ÝVºuq»yJ¡¡9$# ÞÚö‘F{$#ur `tBur  ÆÎgŠÏù 4 ö@t/ Nßg»oY÷s?r& öNÏd̍ò2ɋÎ/ óOßgsù `tã NÏd̍ø.ό šcqàÊ̍÷è•B ÇÐÊÈ

“Andai kata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (al-Mu’minun: 71)

Namun perlu dimaklumi, bahwa alam ini dikendalikan dengan undang-undang dan hukum yang tetap, tidak pernah berubah dan berganti, sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Quran dalam beberapa ayat, antara lain sebagai berikut:

Kaum muslimin telah belajar dari kitabullah dan sunnah Rasul supaya menjunjung tinggi sunnatullah yang berbentuk alam semesta ini dan mencari musabab yang diperoleh dari sebab-sebab yang telah diikatnya oleh Allah, serta supaya mereka menolak apa yang dikatakan sebab yang sekedar dugaan semata yang biasa dilakukan oleh para biksu, ahli-ahli khurafat dan pedagang agama.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.dakwatuna.com/2010/05/6150/rahasia-sunnatullah/#ixzz27niL4C7p

Abd al Hayy al Farmawiy, Al Bidayah Fi al Tafsir al Maudhuiy; Dirasah Manhajiyah al   Mauwdhu’iy, Metode Tafsir Maudhui, Terj Suryan A. Jamrah (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996),

Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Hadits no.3775, Maktabah Syamilah versi 3

Ahmad warson munawwir, Kamus Al-Munawwir, Pustaka Progresif 1997

Azra,Azyumardi Sejarah Ulumul Qur’an, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1999.

http:// eramuslim.com

Ibnu ‘Asyur, At Tahriir Wat Tanwiir, Juz 6, hal.174, Maktabah Syamilah versi 3

Ibnu Jarir Ath Thobari, Tafsir Ath Thobariy, juz.14.hal.19, Mkatabah Syamilah Versi 3

Ibnu Mandzur, Lisaanul Arob, Dar ash Shodir Beirut, 2004

Ibnu Mas’ud Al-Baghowiy, Mu’alimut Tanzil, Dar At Thaibah Riyadh 1997

Imam Muslim Bin Hajjaj, Shahih Muslim, Toha Putra, Semarang 1990

Muhammad Amin Suma, Studi Ilmu-ilmu Al Qur’an 2, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2001

Muhammad Rasyid Ridha’, Tafsir al-Manâr, Dâr al-Manâr, Cairo-Egypt, cet. 2, 1368

Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, , Maktabah Syamilah versi 3

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2001.

 

Shihab, Quraish, Membumikan Alquran. Bandung: Mizan, 2002.

 

Subhi Salih, Mabahis Fi Ulumil Qur’an, trjmh Tim Pustaka Firdaus, cet kedelapan, Jakarta, Pustaka Firdaus

Syekh Mutawalli as-Sya’rawi, Tafsir as-Sya’rawi, vol. 5

Wahbah Zuhaily, Tafsir Al Wasith, Dar el Kitab Beirut, 1999,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s